Komentar Orang Lain Hampir Sekuat Iklan Anda Sendiri
Iklan berbayar dan komentar orang lain hampir sama besar sebagai pintu masuk merek baru di Indonesia. Bedanya cuma satu: yang kedua tidak bisa dibeli.
Ditulis oleh Kang Dadan, Software Engineer & Solo Founder
Angka yang jarang disandingkan
Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater memuat daftar kanal yang dipakai orang untuk menemukan merek baru. Tiga teratas:
- Mesin pencari: 38,3%
- Iklan di media sosial: 37,3%
- Komentar di media sosial: 32,6%
Yang menarik bukan urutannya, tapi jaraknya. Selisih antara iklan berbayar dan komentar orang lain cuma 4,7 poin. Satu kanal Anda beli dengan anggaran bulanan, satunya lagi tidak bisa dibeli sama sekali, dan keduanya nyaris sama besar sebagai pintu masuk.
Laporan yang sama juga menyebut tiga dari lima orang Indonesia memakai media sosial sebagai kanal utama untuk meneliti merek secara online. Jadi kolom komentar bukan tempat orang basa-basi. Itu tempat orang memutuskan.
Anggaran iklan bisa dinyalakan besok pagi. Kolom komentar yang berisi butuh berbulan-bulan, dan tidak ada tombolnya.
Anda tidak bisa hadir di semua tempat
Laporan itu mencatat orang Indonesia menghabiskan 21 jam 50 menit per minggu di media sosial termasuk menonton video online, atau lebih dari tiga jam sehari. Tapi waktu itu tersebar ke rata-rata 7,7 platform tiap bulan.
Angka 7,7 itu yang biasanya diabaikan saat menyusun rencana konten. Menargetkan semuanya berarti hadir setengah hati di tujuh tempat, dan setengah hati di media sosial terlihat jelas. Lebih masuk akal memilih dua atau tiga tempat di mana pembeli Anda memang berhenti lama, lalu benar-benar mengisinya.
Untuk memilihnya, dua angka dari laporan yang sama berguna. Dari sisi waktu harian, TikTok memimpin dengan 1 jam 53 menit, disusul WhatsApp 1 jam 52 menit. Dari sisi jangkauan, WhatsApp dipakai sembilan dari sepuluh orang Indonesia tiap bulan. Dan dari sisi lama satu kunjungan, YouTube paling lama dengan rata-rata 16 menit 49 detik per sesi, diikuti SnackVideo 15 menit 4 detik.
Tiga angka itu menjawab tiga pertanyaan berbeda: di mana orang menghabiskan waktu, di mana orang bisa dijangkau, dan di mana orang mau menonton lama. Platform yang menang di satu kolom belum tentu menang di kolom lain.
Soal "180 juta pengguna"
Angka yang paling sering dikutip dari laporan ini adalah 180 juta pengguna media sosial di Indonesia, setara 62,9% populasi, naik 26% dibanding tahun sebelumnya.
Perlu dibaca hati-hati. Laporannya menyebut identitas pengguna, bukan orang. Satu orang bisa punya beberapa akun di beberapa platform, dan lonjakan 26% dalam setahun jauh lebih mungkin mencerminkan cara menghitung ketimbang pertambahan manusia sebanyak itu. Angkanya tetap berguna sebagai gambaran skala, tapi bukan jumlah calon pembeli.
Kenapa target yang dipatok dari patokan industri sering meleset
Satu peringatan praktis sebelum Anda menyepakati target dengan siapa pun. Angka patokan engagement rate yang beredar berbeda-beda drastis tergantung siapa yang mengukur dan bagaimana rumusnya. Sebagian membagi dengan jumlah pengikut, sebagian dengan jangkauan, sebagian dengan tayangan. Hasilnya bisa berbeda beberapa kali lipat untuk akun yang sama persis.
Maka patokan yang kami pakai bukan angka industri, melainkan angka Anda sendiri tiga bulan terakhir, dihitung dengan satu rumus yang tidak berubah. Itu satu-satunya perbandingan yang benar-benar setara, dan satu-satunya yang bisa membuktikan pekerjaannya berhasil atau tidak.
sumber
- 01 Digital 2026: Top digital and social media trends in Indonesia
We Are Social & Meltwater · 11 November 2025 · wearesocial.com
- 02 Digital 2026: Indonesia reveals social media user identities increased 26% to 180 million
Campaign Brief Asia · 6 November 2025 · campaignbriefasia.com